jusformi
Make Life Better
Sunday, November 30, 2014
Wednesday, November 12, 2014
Bagaimana Menentukan PROSENTASI SAHAM atau BAGI HASIL?
Itulah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawaban singkatnya: Tak ada patokan pasti..!
Sebelumnya saya sudah share “8 Nilai Berpartner dalam Bisnis”. Sebaiknya tidak terburu-buru memberi saham (kepemilikan) kepada seseorang.
Biasanya pemberian saham dilakukan karena ingin mengikat seseorang yang potensial sebagai partner. Namun ada pilihan lain yaitu memberikan BAGI HASIL (Profit Sharing) terlebih dahulu, sebelum masuk ke kepemilikan (Saham).
Misalnya Anda membuka resto, kemudian ingin mengikat kokinya. Gunakan sistim bagi hasil, bukan saham. Apa bedanya? Bagi Hasil tak mengikat kepemilikan. Dia mendapat bagi hasil hanya saat bekerja disitu saja. Jika Anda tidak cocok atau si koki keluar, maka otomatis perjanjian bagi hasil tak dilanjutkan lagi.
Beda dengan saham, sekali tanda tangan di akte notaris, maka dia adalah pemilik. Meski tak bekerja lagi, tetap jadi pemilik. Jika ia meninggal, maka menjadi milik ahli warisnya. Meski demikian, ada pasal-pasal yang bisa mengecilkan (delusi) kepemilikan saham, saat terjadi penambahan modal sepihak.
Berapa persen bagi hasil yang pas? Tergantung seberapa kontribusi dia dalam perusahaan Anda dan seberapa bagus track recordnya. Jika kokinya setara Farah Quinn, bisa jadi bagi hasil ke sang koki lebih besar dari 50%. Karena bisa Buka Langsung Laris. Jika koki tak terkenal, tapi masakannya enak pol, bagi hasilnya bisa 5% - 30% dari Laba Bersih.
Ada baiknya bagi hasil tak dilakukan perbulan. Minimum per 3 bulanan (akumulasi). Menghindari bulan kerugian diantara keuntungan.
Kalau di dunia franchise, ada yang disebut Management Fee, besarannya 10 - 30 % dari Laba Bersih. Sesuai dengan namanya, Management Fee adalah fee yang diberikan atas pengelolaan penuh suatu usaha. Investor/pemilik bisnis terima bersih.
10-30% masih bergantung dari Target Laba (atau omzet) yang dicapai di bulan itu. Misalnya:
• Profit lebih dari 100 juta, mendapat 30%.
• Profit 30 – 100 juta, mendapat 20%.
• Profit kurang dari 30 juta, tak mendapat bagi hasil.
Dengan begitu pengelola (management) juga akan terpacu untuk menggenjot omzet dan laba. Gak mencapai target, ya gak dapat duit.
Perhatian: Sebagai pengelola atau 'koki', harus mendapat GAJI, diluar bagi hasil. Jika tidak, bagaimana dia bisa bertahan hidup?
Sangat berbahaya jika bagi hasil yang diberikan tanpa gaji bulanan. Jika perusahaan rugi, maka dia akan 'nyambi' cari duit diluar. Terbaik adalah ada masa percobaan (tertulis), sehingga Anda pun tak 'berjudi' saat mengambil dia. Jika sudah terbukti dengan waktu, loyalitas, attitude, dan skillnya, barulah dirundingkan untuk diberi saham (kepemilikan).
Saham bisa dibeli oleh 'si koki' dengan harga spesial dan dibayar cicil atau diberikan cuma-cuma (saham kosong).
Berapa besarannya?
Tergantung dari nilai perusahaan saat itu dan kontribusi dia selama ini dan dimasa mendatang. Kebanyakan ‘koki’ hanya bisa menjalankan usaha, tapi tak sampai ke level mengembangkan usaha. Apapun alasannya..
Patokannya?
Antara 5% - 30%, bisa juga lebih, tergantung 'siapa dia'.
Kalau si 'koki' ternyata hanya bisa mengelola 1 cabang saja, bisa jadi sahamnya adalah saham cabang, bukan saham pusat. << baca ulang 3 kali. Jika sudah memutuskan memberi saham, maka jika dia sudah tak bekerja disitu lagi, maka bagi hasil (deviden) tetap didapat.
Dengan memberi saham kepada pengelola, maka bisa membebaskan ketergantungan Anda dalam bisnis Anda. Passive Income..!
Mungkin Anda terfikir: Kalo bisa dimiliki sendiri, kenapa harus dibagi, ribet..! << Itu pilihan dan konsekuensi Anda.
Saya memilih bermitra dengan orang lain karena dapat melengkapi kekurangan yang saya miliki. Juga berjaga jika sesuatu terjadi pada diri saya, maka perusahaan akan tetap jalan.
Semakin ke belakang, biasanya semakin kecil porsi saham saya, namun semakin bebas saya bergerak.
"Lebih baik saya memiliki 1% saham dari 100 perusahaan, daripada 100% saham dari 1 perusahaan" ~ Sudwikatmono
Jawaban singkatnya: Tak ada patokan pasti..!
Sebelumnya saya sudah share “8 Nilai Berpartner dalam Bisnis”. Sebaiknya tidak terburu-buru memberi saham (kepemilikan) kepada seseorang.
Biasanya pemberian saham dilakukan karena ingin mengikat seseorang yang potensial sebagai partner. Namun ada pilihan lain yaitu memberikan BAGI HASIL (Profit Sharing) terlebih dahulu, sebelum masuk ke kepemilikan (Saham).
Misalnya Anda membuka resto, kemudian ingin mengikat kokinya. Gunakan sistim bagi hasil, bukan saham. Apa bedanya? Bagi Hasil tak mengikat kepemilikan. Dia mendapat bagi hasil hanya saat bekerja disitu saja. Jika Anda tidak cocok atau si koki keluar, maka otomatis perjanjian bagi hasil tak dilanjutkan lagi.
Beda dengan saham, sekali tanda tangan di akte notaris, maka dia adalah pemilik. Meski tak bekerja lagi, tetap jadi pemilik. Jika ia meninggal, maka menjadi milik ahli warisnya. Meski demikian, ada pasal-pasal yang bisa mengecilkan (delusi) kepemilikan saham, saat terjadi penambahan modal sepihak.
Berapa persen bagi hasil yang pas? Tergantung seberapa kontribusi dia dalam perusahaan Anda dan seberapa bagus track recordnya. Jika kokinya setara Farah Quinn, bisa jadi bagi hasil ke sang koki lebih besar dari 50%. Karena bisa Buka Langsung Laris. Jika koki tak terkenal, tapi masakannya enak pol, bagi hasilnya bisa 5% - 30% dari Laba Bersih.
Ada baiknya bagi hasil tak dilakukan perbulan. Minimum per 3 bulanan (akumulasi). Menghindari bulan kerugian diantara keuntungan.
Kalau di dunia franchise, ada yang disebut Management Fee, besarannya 10 - 30 % dari Laba Bersih. Sesuai dengan namanya, Management Fee adalah fee yang diberikan atas pengelolaan penuh suatu usaha. Investor/pemilik bisnis terima bersih.
10-30% masih bergantung dari Target Laba (atau omzet) yang dicapai di bulan itu. Misalnya:
• Profit lebih dari 100 juta, mendapat 30%.
• Profit 30 – 100 juta, mendapat 20%.
• Profit kurang dari 30 juta, tak mendapat bagi hasil.
Dengan begitu pengelola (management) juga akan terpacu untuk menggenjot omzet dan laba. Gak mencapai target, ya gak dapat duit.
Perhatian: Sebagai pengelola atau 'koki', harus mendapat GAJI, diluar bagi hasil. Jika tidak, bagaimana dia bisa bertahan hidup?
Sangat berbahaya jika bagi hasil yang diberikan tanpa gaji bulanan. Jika perusahaan rugi, maka dia akan 'nyambi' cari duit diluar. Terbaik adalah ada masa percobaan (tertulis), sehingga Anda pun tak 'berjudi' saat mengambil dia. Jika sudah terbukti dengan waktu, loyalitas, attitude, dan skillnya, barulah dirundingkan untuk diberi saham (kepemilikan).
Saham bisa dibeli oleh 'si koki' dengan harga spesial dan dibayar cicil atau diberikan cuma-cuma (saham kosong).
Berapa besarannya?
Tergantung dari nilai perusahaan saat itu dan kontribusi dia selama ini dan dimasa mendatang. Kebanyakan ‘koki’ hanya bisa menjalankan usaha, tapi tak sampai ke level mengembangkan usaha. Apapun alasannya..
Patokannya?
Antara 5% - 30%, bisa juga lebih, tergantung 'siapa dia'.
Kalau si 'koki' ternyata hanya bisa mengelola 1 cabang saja, bisa jadi sahamnya adalah saham cabang, bukan saham pusat. << baca ulang 3 kali. Jika sudah memutuskan memberi saham, maka jika dia sudah tak bekerja disitu lagi, maka bagi hasil (deviden) tetap didapat.
Dengan memberi saham kepada pengelola, maka bisa membebaskan ketergantungan Anda dalam bisnis Anda. Passive Income..!
Mungkin Anda terfikir: Kalo bisa dimiliki sendiri, kenapa harus dibagi, ribet..! << Itu pilihan dan konsekuensi Anda.
Saya memilih bermitra dengan orang lain karena dapat melengkapi kekurangan yang saya miliki. Juga berjaga jika sesuatu terjadi pada diri saya, maka perusahaan akan tetap jalan.
Semakin ke belakang, biasanya semakin kecil porsi saham saya, namun semakin bebas saya bergerak.
"Lebih baik saya memiliki 1% saham dari 100 perusahaan, daripada 100% saham dari 1 perusahaan" ~ Sudwikatmono
sumber : Juragan forum bersama Jaya Setiabudi
Monday, September 22, 2014
Hal hal sepele yang membuat uangmu cepat habis
Apakah kamu pernah bersenandika hal seperti itu? Mengatur keuangan
memang bukan perkara enteng, apalagi bagi anak-anak muda yang masih
ngekos. Pengeluaran yang tak terkendali bisa bikin kamu kalang kabut di
tanggal-tanggal tua. Kalau kamu pernah mengalami hal seperti tadi, bisa
jadi itu karena kamu nggak sadar telah membuang uangmu untuk hal-hal
nggak penting seperti ini:
1. Rokok
| Rokok di Indonesia murah via regional.kompasiana.com |
Kalau kamu perokok, pasti udah capek mendengar nasihat banyak orang
yang mengatakan bahwa rokok membuatmu semakin boros. Kamu boleh saja
bosan setengah mati mendengar nasihat itu, tapi apa yang mereka katakan
benar adanya.
Harga rokok saat ini bisa dibilang cukup mahal. Apalagi kalau kamu
termasuk perokok berat. Satu bungkus rokok bisa kamu habiskan dalam
waktu dua hari saja. Kalau satu bungkus harganya Rp 15.000,00, dalam
satu bulan kamu bisa habis sekitar Rp 200.000,00 lebih. Jatah uang jajan
kamu jadi berkurang banyak, ‘kan?
Kalaupun kamu belum bisa berhenti merokok, usahakan untuk mengerem
kebiasaanmu itu. Jika biasanya satu bungkus untuk 2 hari, sebisa mungkin
kurangi hingga bertahan sampai satu minggu lamanya. Dengan begitu, kamu
bisa menghemat lebih banyak uang.
2. Terlalu Sering Makan di Luar
| Nongkrong di kafe via www.kaskus.co.id |
Kebanyakan orang memang sangat royal soal urusan kuliner. Apalagi
kalau udah ngumpul bareng teman-teman — kemungkinan besar kamu udah
pasti bakal nongkrong di tempat makan atau kafe. Karena kecintaanmu pada
makanan atau teman-teman, bisa jadi kamu nggak terlalu peduli berapa
banyak uang yang kamu keluarkan cuma buat 1 kali makan.
Uangmu bisa juga cepat habis karena kebiasaanmu makan di luar pada
saat jam istirahat kantor. Meskipun harga makanan di warung-warung
kantin termasuk murah, justru inilah yang bisa membuatmu terlalu mudah
mengeluarkan uang.
Kamu bisa menghemat banyak jika mau memasak sendiri. Saat pergi ke
kampus atau kantor, bawalah bekal dari rumah agar bisa mengirit
pengeluaranmu.
3. Parkir
Bayar uang parkir adalah pengeluaran yang diam-diam bisa membuatmu
kehabisan uang di tengah jalan. Meskipun uang parkir di Indonesia nggak
mahal, jika diakumulasikan ini bisa mencapai nilai yang signifikan.
Untuk parkir motor, rata-rata kamu harus membayar sekitar Rp 1.000,00 –
2.000,00, sedangkan mobil antara Rp 2.000,00 – 5.000,00. Coba deh
bayangkan saat kamu harus membayar ini tiap hari?
Belum lagi saat kamu parkir di mall yang sistem pembayarannya per
jam. Meskipun cuma 1000 per jam, kalau kamu keenakan jalan-jalan di mall
hingga berjam-jam lamanya, bisa-bisa bayar parkir jauh lebih mahal
ketimbang harga minumanmu. Oleh sebab itu, ada baiknya kalau mulai
sekarang kamu mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Selain jadi
lebih irit, kamu juga jadi bisa nggak bergantung lagi sama motor atau
mobilmu.
4. Jajan di Minimarket
Sebelum kamu pergi ke minimarket untuk jajan, pastikan kamu sudah
tahu apa saja yang hendak kamu beli. Bahkan kalau perlu kamu membuat
catatan terlebih dahulu, agar kamu nggak mudah tergoda untuk membeli
makanan ringan lain hanya karena warna dan tempatnya lucu dan unik.
Hal-hal tak terduga inilah yang membuat uangmu mudah hilang tanpa jejak
dari dompetmu.
Selain itu, semakin banyaknya minimarket yang muncul di ruas-ruas jalan raya saat ini bisa menggodamu untuk mampir membeli snack
di sana. Padahal sebelumnya kamu tidak berniat untuk mampir dan membeli
camilan. Untuk mengatasinya, kamu perlu membawa bekalmu sendiri. Dengan
membawa jajanan sendiri untuk mengisi perutmu, kamu akan lebih mudah
mengabaikan keberadaan minimarket yang menggodamu itu.
5. Beli Minuman
| Bawa minuman sendiri dari rumah lebih baik via bersamabiz.blogspot.com |
Karena air mineral dan minuman-minuman kemasan lainnya sangat mudah
ditemukan, kamu seringkali menganggapnya sepele. Kamu jadi malas untuk
membawa bekal minuman sendiri dari rumah atau kosan. Padahal dengan
membawa persediaan minuman sendiri itu bisa menghemat uang jajan kamu,
lho. Sayang banget ‘kan, kalau kamu punya stok minuman banyak di rumah,
tapi pada akhirnya kamu harus beli lagi minuman di minimarket? Belum
lagi sampah plastik yang dihasilkan dari konsumsi minuman kemasam ini!
Mulai saat ini, biasakan untuk membawa minuman sendiri dari rumah ya…
| Cuci sendiri jauh lebih murah via www.kaskus.co.id |
Kalau kamu anak kost, jangan menyepelekan baju kotormu. Saat mereka
sudah terlalu banyak dan menumpuk, kamu sudah bakal terlalu malas untuk
mencuci sendiri. Cara tercepat untuk membuatnya bersih kembali adalah
dengan pergi ke penatu. Kalau sudah begini, uangmu sendiri yang akan
terbuang sia-sia.
Kamu tidak akan perlu pergi ke penatu seandainya kamu tak membiarkan
baju kotormu menumpuk. Agar tak kerepotan, cucilah bajumu sendiri setiap
hari. Mencuci dengan cara mencicilnya tidak akan membuatmu capek. Dan
tentunya, tidak akan ada pemandangan tak enak berupa piramida baju kotor
di kamarmu, ‘kan?
7. Ponsel Lebih Dari Satu
Memiliki ponsel lebih dari satu buah tentu saja membuatmu jadi
semakin boros pulsa. Belum lagi jika semua ponselmu adalah telepon
pintar: bisa dibayangkan berapa banyak yang kamu habiskan hanya untuk
berlangganan paket internet bulanan.
Jika kamu bukan seorang pebisnis sibuk yang dituntut punya banyak
alat komunikasi, lebih baik kamu gunakan satu ponsel saja. Dengan ini,
kamu bisa mengalokasikan uangmu untuk hal lain yang lebih penting
daripada pulsa.
8. Beli Barang Seken dan KW
| Beli barang bekas via phiapu.blogspot.com |
Membeli barang seken atau bekas sebenarnya justru bisa membuatmu
lebih hemat, karena kamu bisa mendapatkan produk dengan harga yang lebih
miring. Asal, kamu bisa memastikan barang bekas tersebut awet dan
berkualitas baik. Jangan sampai kamu salah pilih dan tertipu. Sudah
barang bekas, mahal, eeeehh…ternyata gampang rusak. Sama saja
buang-buang uang. ‘kan?
Sama halnya seperti membeli barang KW. Beli barang KW itu cuma bikin
kamu seneng di awal doang. Nggak ada yang bisa menjamin keawetan dari
produk-produk KW. Daripada harus beli produk KW yang harganya juga mahal
tapi cepat rusak, lebih baik kamu menahan diri dulu hingga uangmu cukup
untuk membeli produk-produk orisinal, yang udah pasti nggak diragukan
lagi kualitasnya.
9. Nalangin Teman
| Nalangin duit via inilahaku-cratos.blogspot.com |
Kalau kamu sering ngumpul sama teman-temanmu, mungkin kalian punya
kebiasaan membeli jajanan secara kolektif. Saat tiba bagianmu untuk
membeli, terkadang kamu memilih untuk menalanginya lebih dulu karena
malas menghitung siapa harus bayar berapa. Masalahnya, seringkali kamu
lupa untuk menagihnya. Kalaupun kamu ingat, kamu akan sungkan menagih
hutang karena nominalnya terlalu kecil. Kamu takut dibilang perhitungan
dan pelit.
Tanpa kamu sadari, hal ini bisa menjadi penyebab keborosanmu, lho.
Sepertinya sedikit, tapi kalau kamu harus nalangin banyak orang dan
dalam waktu yang sering, sama saja kamu sudah menghabiskan uang yang
cukup banyak.
Setidaknya kamu tidak perlu sungkan untuk meminta kembali apa yang memang hakmu. Temanmu pasti akan memakluminya, kok.
| Bayar pakai uang pas aja via www.kaskus.co.id |
Kebiasaanmu membeli sesuatu dengan uang berpecahan besar bisa
membuatmu lebih boros, lho! Pertama, ketika kamu melihat lembaran 50.000
atau 100.000 di dompetmu, kamu akan punya sugesti bahwa uangmu masih
banyak. Padahal, bisa saja tiga lembar uang 100.000 yang ada di dompetmu
itu adalah uang terakhirmu bulan ini.
Kedua, cuma membayar dengan lembaran 50.000 atau 100.000 akan
membuatmu merasa harus belanja banyak. Kamu akan segan membeli barang
seharga Rp. 3000,00 dengan uang senilai 50.000, sehingga kamu akan
membeli barang-barang yang tidak perlu hanya agar petugas minimarket tak
menolak uangmu.
Belum lagi kalau ternyata kembaliannya uang recehan. Duh…kamu akan
semakin malas menggunakan uang recehmu. Kamu pun ujung-ujungnya
membiarkan uang recehmu tergeletak begitu saja di meja. Padahal, uang
itu sebenarnya masih bisa kamu pakai.
11. Belanja Kebutuhan Bulanan dengan Berlebihan
| Belanja secukupnya saja via www.satelit9.com |
Pada saat menerima gaji atau uang bulanan dari orang tua, kamu
seringkali langsung membelanjakannya untuk kebutuhan bulananmu. Biasanya
kamu membeli dalam jumlah yang banyak sekaligus untuk stok selama satu
bulan ke depan. Hal ini bisa membuatmu menjadi sedikit lebih boros.
Daripada kamu harus membuang banyak untuk belanja stok bulanan, jauh
lebih baik kalau kamu membeli secukupnya saja. Ini untuk mengantisipasi
supaya stok kebutuhanmu yang berlebihan tidak terbuang sia-sia
nantinya. Dengan begitu, uangmu nggak akan cepat habis di hari-hari
awal setelah gajian. Kamu juga masih punya banyak uang simpanan jika da
keperluan mendadak yang cukup mendesak nanti. Lagipula, jika
kebutuhanmu habis di pertengahan bulan, kamu masih bisa membelinya lagi,
‘kan?
12. Tarik Tunai di ATM Bersama
Melakukan transaksi tarik tunai melalui jaringan ATM bersama juga
bisa membuat uang dalam tabunganmu sedikit demi sedikit berkurang.
Sebisa mungkin lakukan transaksi penarikan uang tunai melalui mesin ATM
yang sesuai dengan bank tempatmu menabung agar tidak terkena biaya
pemotongan.
Biasanya, biaya pemotongan uang saat melakukan penarikan tunai
melalui lintas ATM akan dikenankan biaya sekitar Rp 3.000,00 – 5.000,00.
Tidak mahal memang, tapi ini tentu akan membuat nominal uang di dalam
ATM-mu tidak bulat, sedangkan minimal uang yang bisa diambil di ATM
adalah Rp. 50.000. Tentunya ini bisa merugikanmu, apalagi kalau kamu
masih anak kuliahan yang belum punya penghasilan sendiri.
Kalaupun terpaksa harus bertransaksi melalui ATM bersama, pastikan
kamu benar-benar membaca peraturannya. Jangan sampai kamu mengalami
kerugian hanya karena malas membaca. Ada lho beberapa ketentuan
transaksi lintas bank yang akan membuatmu terkena biaya mahal.
13. Belanja Barang Diskon
| Jangan tergiur dengan diskon via ramadhan.kompas.com |
Saat kamu membeli barang diskon, kemungkinan terbesar yang terjadi
adalah: kamu membeli barang tersebut karena harganya yang murah, bukan
karena membutuhkannya. Produk diskonan memang sangat menggiurkan. Dengan
iming-iming harga murah, kamu jadi berniat membeli produk tersebut,
bahkan dalam jumlah yang banyak. Padahal, sebenarnya kamu tidak
membutuhkan produk tersebut.
Oleh karena itu, kamu harus lebih bijak lagi saat menemukan
produk-produk yang didiskon.
Pertimbangkan matang-matang: apakah kamu
benar-benar membutuhkannya, atau kamu cuma nafsu belaka? Jangan tergoda
untuk membeli sesuatu hanya karena “mumpung lagi diskon”.
14. Belanja Menggunakan Kartu Debit dan Kredit
Penggunaan kartu debit dan kredit memang bisa membawa keuntungan dan
kemudahan bagi para pemakainya. Tapi hal itu tidak akan terjadi jika
kamu menggunakannya dengan cara yang salah. Membayar menggunakan kartu
debit/ kredit memang lebih mudah dan simpel. Cukup sekali gesek,
transaksi pembayaran selesai. Kamu tidak perlu repot-repot lagi
menghitung lembaran uang tunai.
Tapi, justru karena kemudahan itulah yang membuatmu semakin boros.
Saking mudahnya
bertransaksi jual beli, kamu jadi lebih konsumtif. Kamu
juga nggak lagi memperhatikan secara detil berapa banyak uang yang kamu
punya. Seringnya kamu hanya mengingat digit angka depannya saja. Berbeda
jika kamu menggunakan uang tunai. Kamu akan lebih teliti dan ingat
berapa jumlah uang yang ada di dompetmu. Dengan begitu, kamu akan lebih
bijak lagi saat hendak membelanjakan uangmu.
15. Ikutan Gym dan Kelas Olahraga
| Sayang uangnya kalau nggak rajin via jktgo.com |
Mendaftar untuk kelas fitness dan olahraga seperti muay thai, zumba
dance, pilates, atau yoga bisa membuatmu boros, lho! Kamu akan
menghambur-hamburkan uangmu ketika tidak rajin mengikuti kelasnya.
Biasanya, kelas-kelas olahraga seperti itu mengharuskanmu untuk
mendaftar full selama satu bulan ditambah dengan biaya administrasi
keanggotaan pada awal pertemuan. Ini tentu akan mubazir ketika di
tengah-tengah bulan ternyata kamu kehilangan semangat untuk mengikuti
kelasnya.
Agar uangmu tidak terbuang percuma, pastikan kamu benar-benar mantap
untuk mengikuti kelas olahraga tersebut. Jika sekiranya jadwalmu terlalu
padat untuk mengikuti kelas itu, carilah alternatif olahraga lain yang
masih bisa kamu lakukan secara gratis.
Coba deh kamu ingat-ingat kembali. Apakah kamu pernah melakukan
hal-hal di atas? Kalau iya, jangan bingung lagi kenapa uangmu mudah
sekali habis. Baru sadar ‘kan, kalau ternyata tuyulnya itu kamu
sendiri? Mulai sekarang, jangan kepincut sesuatu hanya karena harga
murah. Waspadalah dengan kebiasaanmu yang terlalu mudah mengeluarkan
uang untuk hal-hal yang sebenarnya kurang berfaedah.
sumber : Hipwee
Lima tips atur keuangan di masa muda
Halo gan, kali ini ane pengen share sebuah artikel yang telah ane baca. Artikel ini sangat bermanfaat buat agan-agan yang telah berkarir di usia muda. cekidot
Rentang usia 20-an merupakan waktu potensial bagi generasi muda untuk mulai berkarir dan mewujudkan cita-citanya. Namun, rentang usia 20-an juga merupakan masa di mana banyak orang masih sulit mencapai kestabilan hidup, utamanya dalam mengatur kestabilan finansial pribadi. Agar Anda mencapai kemapanan finansial sebelum mengakhiri rentang usia 20-an, lima tips jitu di bawah ini adalah jawabannya.
1. Ketahui dengan benar alur pemasukan dan pengeluaran
![]() |
| ourdhesyu.wordpress.com |
Anda mungkin sudah sangat sering mendengar imbauan ini, namun apakah Anda telah benar-benar memperhatikan dan menerapkannya dalam pola keuangan Anda? Mungkin banyak yang menjawab belum, dan sebenarnya hal itu umum ditemui pada angkatan kerja di rentang usia 20-an.
Sumber masalah utama dari hal ini adalah masih terus berjalannya proses peralihan seseorang menuju kedewasaan. Banyak angkatan kerja di rentang usia ini kerap kali lupa diri akan penghasilan yang didapatnya, dan tak jarang menghabiskannya pada hal-hal yang bersifat impulsif.
Sudah menjadi kewajiban bagi Anda untuk mulai menerapkan kedisiplinan dalam mengelola keuangan Anda. Pahami dengan seksama perbandingan penghasilan dan kebutuhan hidup Anda.
Utamakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat primer terlebih dahulu, baru kemudian hal-hal yang bersifat sekunder hingga tersier. Jangan pula mudah terpengaruh dengan beragam penawaran komersial di luar sana sebelum Anda benar-benar menyeleksinya dengan cermat.
Anda dapat memanfaatkan beragam panduan dan alat bantu kelola keuangan, baik secara manual maupun terkomputasi, untuk mendukung pengelolaan keuangan yang lebih baik.
2. Mulai menabung
Jangan pernah terlalu lama terlena dengan buaian ungkapan 'nikmati masa muda'. Jika Anda terlena dengan hal tersebut dan mengabaikan tata kelola keuangan demi memenuhi hasrat jiwa muda, maka bukan tidak mungkin Anda akan sering merasa tidak cukup dengan penghasilan yang Anda peroleh.
Untuk menghindari hal buruk tersebut, maka sebaiknya segera tabungkan sebagian penghasilan Anda, minimal 15 persen dari total pendapatan ke dalam rekening tabungan.
Lebih disarankan lagi untuk segera menabungnya sesaat ketika Anda telah mendapat penghasilan rutin tiap bulannya. Jika ditanya apa manfaat dari menabung? Anda akan menemukan jawaban baiknya di kemudian hari.
3. Membangun dana darurat
![]() |
| www.forbes.com |
Jangan samakan tabungan dengan dana daurat, melainkan pisah kedua dana tersebut. Umumnya disarankan untuk menyisihkan 10 persen dari penghasilan rutin untuk dana darurat.
Adapun fungsinya adalah untuk dana talangan awal ketika memang tengah dibutuhkan. Manfaat lainnya adalah dengan adanya dana darurat, maka tabungan Anda pun akan aman, sehingga Anda dapat terus fokus mewujudkan impian masa depan Anda tanpa harus terpotong dananya ketika sewaktu-waktu membutuhkan dana darurat.
4. kendalikan Hutang
![]() |
| www.bijaks.net |
Organisir utang Anda, baik utang langsung maupun tagihan kartu kredit, berurut dari yang berbunga kisaran tinggi hingga rendah. Di dalam kehidupan saat ini, menghindari utang hampir mustahil karena umumnya banyak orang sulit untuk meraih apa yang diimpikannya dengan cepat, sebagai contoh dalam kepemilikan rumah, kendaraan, atau bahkan modal usaha.
Agar Anda tidak terjebak dengan utang yang Anda ambil, maka kenali lebih dalam bentuk utang saat hendak mengajukannya. Jika memungkinkan, ambillah utang tersistem yang berada dalam satu payung lembaga perbankan, sehingga Anda dapat mengatur moda pembayaran yang sesuai dengan kemampuan dan fleksibilitas Anda. Banyak bank dan lembaga keuangan sejenis yang mulai menerapkan hal ini, kenali hal tersebut mulai sekarang.
5. Pikir ulang pengeluaran anda
![]() |
| motivasimulyo.wordpress.com |
Terkait dengan poin pertama, sebaiknya Anda mengecek ulang rencana keuangan yang telah Anda susun. Telusuri kembali daftar pengeluaran yang Anda rencanakan dan tangguhkan rencana-rencana yang sekiranya memang masih dapat Anda tunda.
Sebagai contoh untuk pengeluaran fashion, dibandingkan Anda membeli baju baru untuk sebuah acara, mengapa tidak melirik isi lemari dan merencanakan padu padan busana Anda untuk tampilan baru yang berbeda dan lebih segar.
Sebagai contoh untuk pengeluaran fashion, dibandingkan Anda membeli baju baru untuk sebuah acara, mengapa tidak melirik isi lemari dan merencanakan padu padan busana Anda untuk tampilan baru yang berbeda dan lebih segar.
Sebenarnya, mengelola keuangan demi masa depan bukanlah sesuatu hal yang sangat rumit dan sulit untuk dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan apa yang disebut dengan aktivitas perencanaan keuangan. Jika seseorang menjadi pintar dan cerdas, tentu akan bijak mengelola keuangannya, sehingga masa depan akan lebih dapat dipersiapkan dan sejahtera.
sumber : Kaskus
Subscribe to:
Comments (Atom)





